PENGERTIAN
PUBLIC SPEAKING
Public speaking adalah suatu bentuk komunikasi
kepada sekelompok orang didepan umum (biasanya dalam bentuk ceramah atau
pidato) yang bertujuan untuk memberikan informasi, mempengaruhi atau menghibur.
Public Speaking merupakan rumpun keluarga Ilmu Komunikasi dimana mencakup
kemampuan seseorang untuk dapat berbicara di depan publik, kelompok maupun
perseorangan perlu menggunakan strategi, teknik yang tepat. Berdebat,
menyampaikan pidato, memimpin rapat,
Me-moderatori atau memandu sebuah acara, memandu sessi doa, melakukan
debat dalam diskusi, memimpin sessi presentasi atau diskusi, menjadi presenter
tv, mengajar dan lain sebagainya. Secara sederhana public speaking merupakan
tata cara melakukan bicara di depan umum, secara runtut dan terencana, dengan
tujuan tertentu.
Saat ini public speaking dianggap merupakan
tingkatan komunikasi tertinggi dalam komunikasi, dari komunikasi intrapersonal
sampai komunikasi publik, yang bisa dilakukan oleh manusia dan termasuk dalam
salah satu model model komunikasi yang dipelajari sejak dulu, dan siapapun
dapat melakukannya serta tidak harus berada dalam ruang lingkup politik
sebagaimana pada zaman dahulu. Beberapa menyebutkan bahwa suatu komunikasi
dapat disebut dengan komunikasi publik apabila jumlah audiens yang berada dalam
komunikasi tersebut berjumlah lebih dari sepuluh orang. Akan tetapi pada
prinsipnya komunikasi publik memiliki bentuk sistem komunikasi massa yang
melibatkan pembicara dan audiens dalam jumlah yang banyak dan tidak dapat
dipahami hanya dengan model komunikasi antar pribadi.
KOMPONEN
PUBLIC SPEAKING
Public Speaking memiliki komponen-komponen tertentu
sebagaimana komunikasi yang lain. Adapun komunikasi publik memiliki komponen
sebagai berikut.
- Stimulus,
yaitu suatu rangsangan awal sebagai sebuah bentuk mencari atensi
psikologis pada para audiens yang dihadapi oleh seorang pembicara.
- Pembicara,
yaitu orang yang berbicara di depan publik yang membangun pesan
dilandaskan pada pengalaman yang dimiliki, keadaan emosional-psikologis,
tujuan pembicara dan lain sebagainya. Pembicara biasanya berharap mencapai
tujuan tertentu dengan menyajikan pesan tertentu pada sekelompok
pendengar.
- Pesan,
yaitu apa yang disampaikan oleh pembicara baik pesan verbal ataupun pesan
nonverbal.
- Channel,
yaitu saluran komunikasi yang digunakan oleh pembicara dan pendengar untuk
saling berkomunikasi.
- Audiens, yaitu sekelompok orang yang berkumpul untuk
mendengarkan pembicara.
- Konteks, yaitu situasi yang melingkupi komunikasi publik.
- Dampak, yaitu akibat-akibat atau efek-efek apa yang akan
terjadi setelah komunikasi dilakukan oleh pembicara.
- Feedback, yaitu umpan balik audiens pada pembicara.
- Gangguan, yaitu segala sesuatu yang mengganggu jalannya
komunikasi.
- Komunikasi antar anggota
audiens, yaitu komunikasi yang terjadi
di dalam kelompok audiens ketika pembicara berbicara.
SEJARAH
PUBLIC SPEAKING
Ilmu public speaking yang saat ini sedang terus kita
pelajari ternyata telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Ketika berbicara
tentang nama-nama besar di sepanjang sejarah public speaking, nama Dale
Carnegie tidak mungkin bisa dihindari. Dale Carnegie adalah salah satu pioner
dalam bidang public speaking dan self development di dunia. Buku karangan
beliau pada tahun 1936 yang berjudul How to Win Friends and Influence People
masih menjadi best seller sampai hari ini.
Dale
Carnegie lahir di Amerika pada tahun 1888. Dibesarkan di keluarga petani miskin
mengharuskannya untuk melakukan berbagai cara agar dapat bertahan hidup, mulai
dari berjualan susu sampai berjualan sabun. Tetapi dibalik kesusahan itu
karakter-karakter luar biasa yang dimiliki oleh Dale Carnegie mulai terbentuk. Di
tahun 1911, Dale Carnegie yang hampir bangkrut mendapatkan sebuah ide untuk
mengajarkan public speaking yang merupakan cikal bakal dari the Dale Carnegie
Course. Ketertarikan masyarakat Amerika untuk belajar public speaking dan
meningkatkan kepercayaan diri membuat nama Carnegie melambung dengan cepat.
Sampai hari ini metode belajar yang digunakan oleh beliau masih diterapkan di
lebih dari 80 negara lewat sebuah organisasi bernama Dale Carnegie Training.
beberapa
ilmu luar biasa yang diajarkan oleh Dale Carnegie lewat tiga quote dari beliau:
"Only
the prepared speaker deserves to be confident"
(Hanya
pembicara yang sudah siap yang pantas mendapatkan kepercayaan diri)
Persiapan merupakan langkah awal dan langkah terpenting
dalam proses public speaking. Dalam buku Public Speaking for Success, Dale
Carnegie mengatakan bahwa lakukan persiapan dengan memikirkannya selama 7 hari
dan memimpikannya selama 7 malam. Beliau juga memberikan contoh tentang
bagaimana seorang public speaker hebat yang juga merupakan mantan presiden
Amerika Serikat, Abraham Lincoln mengerahkan banyak tenaga untuk melakukan
persiapan sebelum berpidato. Tidak dapat dipungkiri bahwa persiapan yang baik
merupakan sebuah hal yang sangat penting bahkan pembicara hebat seperti Abraham
Lincoln melakukannya dengan sungguh-sungguh.
"Tell
the audience what you're going to say, say it, then tell them what you've
said"
(Katakan
pada audiens apa yang akan Anda katakan, katakan hal tersebut, dan sekali lagi
katakan apa yang telah Anda katakan)
Tujuan utama dari setiap pembicara adalah
menyampaikan pesan kepada audiens. Pesan tersebut bisa berupa informasi,
himbauan, ajakan, dan sebagainya. Jadi hal terpenting yang harus diperhatikan
seorang pembicara adalah bagaimana caranya supaya pesan tersebut dapat sampai
kepada audiens. Dale Carnegie memberikan sebuah metode yang sangat efektif
berupa pengulangan yaitu dengan mengucapakan pesan yang akan Anda sampaikan,
kemudian mengucapkan pesan tersebut, dan terakhir mengulangi pesan tersebut
sekali lagi.
"I
am very fond of strawberries and cream but I have found that for some strange
reason, fish prefesh worms. So when I went fishing, I didn't think about what I
wanted. I thought about what they wanted"
(Saya
sangat menyukai stroberi dan krim tetapi saya mengetahui bahwa ikan lebih
menyukai cacing. Jadi ketika saya pergi memancing saya tidak berpikir tentang
apa yang saya inginkan. Saya berpikir apa yang mereka inginkan)
Perumpamaan tentang memancing yang disampaikan oleh
Dale Carnegie mengajarkan kita untuk mempunyai pola pikir yang berorientasi
pada audiens. Ketika berbicara di depan umum yang perlu dipikirkan adalah apa
yang ingin audiens kita dapatkan bukan apa yang ingin kita dapatkan. Sebuah
pidato dikatakan berhasil apabila audiens mendapatkan manfaat dari pidato
tersebut. Jadi alangkah baiknya apabila sebelum berpidato kita sudah mengetahui
apa yang diinginkan oleh audiens kita.
PUBLIC
SPEAKING JAMAN KUNO
Sekitar 2.500 tahun yang lalu di Athena kuno, para
pemuda diminta untuk memberikan pidato yang efektif sebagai bagian dari tugas
mereka sebagai warga negara. Selama waktu itu Socrates (c.469-3998 SM), Plato
(427-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM) mengajarkan murid mereka filsafat
dan retorika. Retorika menurut Plato adalah "seni memenangkan jiwa oleh
wacana."
Demokrasi saat berkembang saat itu semua warga harus
mampu berbicara dalam legislatif dan bersaksi di pengadilan. Warga bertemu di
Sidang besar di pasar (agora) untuk membahas isu-isu perang dan ekonomi dan
politik.Ditambah dengan lembaga Pengadilan Rakyat oleh Sage, Solon, di 594-593
SM, dimana warga bisa membawa keluhan-keluhan mereka ke pengadilan dan berdebat
kasus mereka. Saat itu, tidak ada pengacara dan karena orang sering menggugat
satu sama lain , sehingga penting bagi setiap warga negara untuk memiliki
kemampuan komunikasi untuk dirinya dan keluarganya.
Aristoteles mengatakan bahwa ada 5 tahap dalam
penyusunan pidato (Lima Hukum Retorika =
The Five Canons of Rhetoric), yaitu:
·
Inventio (penemuan), penggalian topik
dan menentukan metode persuasi yang
paling tepat, merumuskan tujuan mengumpulkan
bahan/argumen yang sesuai dengan kebutuhan khalayak. Aristoteles menyebut ada 3 metode persuasi, yaitu:
1.
Ethos, kita harus menunjukan kepada khalayak bahwa kita memiliki pengetahuan
yang luas, kepribadian yang terpercaya, status yang
terhormat.
2.
Pathos, kita harus dapat menyentuh hati khalayak: perasaan, emosi, harapan,
kebencian.
3.
Logos, kita dapat menunjukan dokumen atau contoh sesuatu sebagai bukti.
·
Dispositio (penyusunan), tahap
pengorganisasian pesan. Aristoteles
menyebutnya taxis, pesan harus dibagike dalam beberapa bagian yang
berkaitan secara logis: pengantar, pernyataan, argumen, dan epilog
·
Elocutio
(gaya), pemilihan kata-kata
dan bahasa yang
tepat untuk mengemas pesan. Gunakan bahasa yang tepat,
benar dan dapat diterima, pilih
kata-kata yang jelas dan langsung, rangkaian kalimat yang indah, hidup
·
Memoria
(memori), pembicara harus mengingat pesan yang ingin disampaikan
·
Pronuntiatio (penyampaian), pembicara
menyampaikan pesannya. Di
sini acting sangat berperan,
pembicara harus memperhatikan olah vocal
dan gerakan tubuh.
PERKEMBANGAN
PUBLIC SPEAKING
Retorika adalah seni sekaligus ilmu yang mempelajari
penggunaan bahasa dengan tujuan menghasilkan efek persuasif. Selain logika dan
tata bahasa, retorika adalah ilmu wacana yang tertua yang dimulai sejak zaman
Yunani kuno. Hingga saat ini, retorika adalah bagian sentral dalam pendidikan
di dunia Barat. Kemampuan dan keahlian untuk berbicara di depan audiens publik
dan untuk mempersuasi audiens untuk melakukan sesuatu melalui seni berbicara
adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pelatihan seorang intelektual
(Johnstone, 1995). Retorika sebagai cabang ilmu berkaitan erat dengan
penggunaan simbol-simbol dalam interaksi antar manusia.
Dalam sistematisasi retorika Aristoteles, aspek
terpenting dalam teori dan dasar pemikiran retorika adalah tiga jenis
pendekatan untuk mempersuasi audiens, yakni logos, pathos dan ethos. Logos
adalah strategi untuk meyakinkan audiens dengan menggunakan wacana yang
mengedepankan pengetahuan dan rasionalitas (reasoned discourse), sementara
pathos adalah pendekatan yang mengutamakan emosi atau menyentuh perasaan
audiens dan ethos adalah pendekatan moral—menggunakan nilai-nilai yang
berkaitan dengan keyakinan audiens. Di abad ke-20, retorika berkembang menjadi
sebuah cabang ilmu pengetahuan dengan berkembangnya pengajaran tentang
komunikasi publik dan retorika di sekolah-sekolah menengah dan
universitas-universitas pertama di Eropa dan kemudian meluas hingga
kawasan-kawasan lain di dunia. Harvard, sebagai universitas pertama di Amerika
Serikat, misalnya, telah lama memiliki kurikulum mata kuliah dasar sebagai
Retorika sebagai salah satu mata kuliahnya (Borchers, 2006). Dengan
berkembangnya ilmu komunikasi, pembelajaran retorika lebih meluas lagi. Saat
ini, retorika dipelajari dalam ruang lingkup yang luas dalam bidang pemasaran,
politik, komunikasi, bahkan bahasa (linguistik). Propaganda menjadi fenomena
retorika yang sangat menarik. Ketika orang berlomba-lomba mendesain kata-kata
untuk mempengaruhi orang lain, itu membuktikan bahwa seni merangkai pesan
sangat berpengaruh dalam berkomunikasi.
Tokoh-tokoh retorika mutakhir:
- James
A. Winans dalam bukunya “public
speaking”( 1917) menggunakan spikologi dari Williams James dan E.B
Tichener. Sesuai teori James bahwa tindakan ditentukan perhatian, Winans
mendefinisikan persuasi sebagai “proses menumbuhkan perhatian. Pentingnya
membangkitkan emosi melalui motif- motif psikologi seperti kepentingan
pribadi, kewajiban sosial dan kewajiban agama. Winans adalah pendiri
Speech Communication Association of America (1950).
- Charles
Henry Woolbert yang juga pendiri Speech
Communication Association of America. Psikologi yang memengaruhinya adalah
behaviorisme dari John B.Watson. Woolbert memandang Speech Communication
sebagai ilmu tingkah laku. Pidato merupakan ungkapan kepribadian. Logika
adalah dasar utama persuasi. Dalam menyusun persiapan pidato harus
diperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) Teliti tujuannya, (2) Ketahui
khalayak dan situasinya, (3) Tentukan proposisi yang cocok dengan khalayak
dan situasi tersebut, (4) Pilih kalimat-kalimat yang dipertalikan secara
logis. Bukunya, The Fundamental of Speech.
- William
Noorwood Brigance. Berbeda dengan Woolbert yang
menitikberatkan logika, Brigance menekankan faktor keinginan (desire)
sebagai dasar persuasi. Persuasi meliputi empat unsur: 1) Rebut perhatian
pendengar, 2) Usahakan pendengar untuk mempercayai kemampuan dan karakter
anda, 3) Dasarkanlah pemikiran pada keinginan, dan 4) Kembangkan setiap
gagasan sesuai dengan sikap pendengar.
- Alan
H.Monroe dalam bukunya, Principles and
Types of Speech. Pertengahan tahun 20-an Monroe bersama stafnya meneliti
proses motivasi. Jasa, Monroe, cara organisasi pesan. Menurut Monroe pesan
harus disusun berdasarkan proses berpikir manusia yang disebutnya
motivated sequence.
REFERENSI